Senin, 19 Oktober 2020

INOVASI PEMANFAATAN PORTAL RUMAH BELAJAR DI SEKOLAH PELOSOK YANG SUSAH SINYAL, BISAKAH??

 

SEKOLAH DI PELOSOK, SUSAH SINYAL, BAHKAN PERNAH DAN SERING TERJADI SELAMA DUA PEKAN SINYAL HILANG SAMA SEKALI, BISAKAH BERINOVASI MENGGUNAKAN PORTAL RUMAH BELAJAR??

Portal Rumah Belajar adalah salah satu flatform belajar online yang digagas oleh Pusat Data dan Informasi ( PUSDATIN) Kemdikbud RI. Portal rumah belajar ini tentunya sangat support sekali loo untuk pembelajaran siswa di rumah, baik siswa PAUD, SD, SMP,dan SMA/SMK.

    Rumah belajar memiliki fitur-fitur utama dan fitur pendukung. Adapun fitur utamanya adalah :

        1.  Sumber Belajar
        2.  Kelas Maya
        3. Bank Soal
        4.  Laboratorium Maya

    Sedangkan fitur pendukungnya adalah :

        1. Peta Budaya
        2. Wahana Jelajah angkasa
        3. PKB ( Program Keprofesian Berkelanjutan)
        4. BSE ( Buku Sekolah Elektronik )
        5. Edugame

Semua fitur tersebut sangat mendukung kegiatan belajar dari rumah (BDR). Selain itu fiturnya dapat menperkaya literasi digital siswa yang tentunya sesuai dengan tuntutan era mileneal 4.0. Sejalan dengan hal itu portal ini juga sangat terasa manfaatnya terkhusus di masa pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih mewabah hampir diseluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Jadi sahabat rumah belajar dimanapun kalian berada bisa akses nih portal rumah belajar untuk menemani serunya belajar tanpa terbatas ruang dan waktu. Sesuai dengan jargo rumah belajar, “belajar dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja”, dan yang paling penting bisa diakses secara gratis loo.

Tentunya secara umum, dalam mengakses portal rumah belajar diperlukan akses internet. Namun ada yang berbeda dengan sekelompok siswa yang tinggal dipedalaman dengan kondisi sinyal Internet yang sangat minim ini. Siswa siswi di Nagari Silayang, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten  Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Dengan segala keterbatasan yang ada, tidak menyurutkan semangatku sebagai salah seorang guru di SMA N 1 Mapat Tunggul Selatan ini.

Penulis Sedang di perjalanan menuju ke SMA N 1 Mapat Tunggul Selatan

Perkenalkan Saya adalah Lilis Suryani,S.Pd. Guru Geografi di SMA ini. Kondisi geografi sekolah yang relatif cocok digunakan sebagai laboratorium outdoor mata pelajaran geografi. Hal ini karena komplitnya morfologi dan fenomena-fenomena geosfer yang terdapat di kecamatan ini. Sekolah ini terletak di perbukitan, jarak tempuh dari jalan lintas Sumatera ke kecamatan ini adalah sekitar 35 km. dengan kondisi medan jalan yang sangat ekstrim. Ada ribuan kisah yang ingin sekali saya ceritakan kepada guru-guru hebat Indonesia, namun pada artikel kali ini cukup saya ulas secara singkat saja.

Maret 2019, adalah pertama kali saya menjejakkan kaki ke sekolah ini, sungguh tak menyangka bahwa masih ada penduduk dengan jumlah yang relatif ramai setelah saya beserta teman-teman sesama CPNS penempatan SMA N 1 Mapat Tunggul Selatan menelusuri semua jenis jalan, mulai dari jalan aspal super mulus, jalan beton, jalan setengah beton, jalan yang penuh bebatuan ukuran besar, jalan yang dipenuhi dengan bebatuan bergerak yang kerap kali membuat orang yang melaluinya terjatuh, jalan berlumpur, jalan dengan tingkat kemiringan sekitar 350  yang super ekstrim.

Disini saya harus bisa beradaptasi dengan segala kondisi yang ada, seperti aliran listrik yang masih minim, sinyal telpon, SMS, dan Internet yang sangat susah. Pernah diawal saya bertugas, terjadi hujan dengan intensitas deras mengguyur nagari itu, sehingga tower telekomunikasi disambar petir, sinyal hilang selama dua minggu, listrik juga padam. Hal ini merupakan salah satu yang tak pernah bisa saya lupakan, betapa tidak saya yang biasanya tinggal di kota Padang selama 6 tahun yang kondisinya antonim dengan konsisi di nagari tempat saya mengabdi harus berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Meskipun notabene nya tempat tinggal saya dengan kecamatan ini berada di kabupaten yang sama yaitu Pasaman, namun mengharuskan saya untuk merantau dinegeri sendiri, jadi saya harus kos di di nagari tersebut karena tidak memungkinkan ulang alik karena kondisi jalan yang super ekstrim.

Penulis sedang di depan Kantor Majelis Guru SMA N 1 Mapat Tunggul Selatan

Nah, salah satu hal unik yang saya temukan di SMA ini adalah banyaknya siswa yang menggunakan Smart phone android yang dapat dikategorikan canggih, padahal kan sinyal internetnya susah hanya sinyal Edge yang terkadang tidak berfungsi. Dari pengamatan itulah yang menjadikan saya tertarik untuk memberdayakan Smart phone siswa dalam pembelajaran di sekolah. Alhamdulillah, setahun bertugas disana saya sudah menerapkan hal tersebut yaitu dengan membagkan soft file buku sekolah elektronik (BSE) kepada siswa dan mendapatkan respon posistif para siswa, tidak sedikit diantara mereka yang berucap “ haaah, akhirnya HP kita bisa digunakan untuk belajar, seperti siswa dikota-kota gitu” ( kurang lebih seperti itulah celoteh mereka dalam bahasa minang melayu perbatasan).

Respon itulah yang menjadikan saya terpacu untuk lebih berinovasi dalam pembelajaran geografi dengan memanfaatkan smart phone siswa. Seperti sebuah kebetulan yang disengaja, saya mengikuti PembaTIK yang diselenggarakan oleh Pusdatin Kemdikbud RI, saya mengikuti semua rangkaian kegiatannya dengan antusias karena memang ingin dan sangat butuh sekali ilmu yang sedang saya cari-cari ini. Alhamdulillah saya berhasil membuat media pembelajaran interaktif (MPI) dengan menggunakan Articulary storyline, juga membuat video pembelajaran geografi yang tentunya bermanfaat bagi siswa khususnya dalam masa pembelajaran jarak jauh ini, ini adalah pengalaman pertama saya untuk melakukan hal seprti ini, merasa sangat bangga terhadap diri sendiri dan Pusdatin Kemdikbud yang sudah menyenggarakn kegiatan ini.

Alhamdulillah saya masuk ke 30 besar peserta pembaTIK level 4 Sumatera Barat. Di level ini temanya adalah level berbagi, jadi kami ditugaskan untuk berbagi inovasi pembelajaran yang kami lakukan khususnya kepada guru-guru dan kepada semua umumnya. Nah, pada awalnya saya ragu bagaimana caranya menggunakan portal rumah belajar di sekolah yang minim sinyal ini. Saya sempat hilang semangat untuk melanjutkan tugas ini, namun Alhamdulillah dari kegiatan coaching yang telah dilakukan saya mendapatkan cambuk motivasi dan semangat dari tutor-tutor dan para sahabat rumah belajar yang luar biasa.

Akhirnya saya menemukan inovasi penggunaan portal rumah belajar pada mata pelajaran geografi didaerah yang minim akan sinyal internet, yaitu dengan memanfaatkan fitur pendukung rumah belajar “wahana jelajah angkasa” yang notabene nya bisa diakses jika ada sinyal internet, namun saya berinovasi sendiri bagaimana fitur ini tetap bisa digunakan dalam pembelajaran geografi di sekolah ini yaitu dengan merekam layar HP  dan mulai mengoperasikan wahana jelajah angkasa yang terdapat di fitur ini. Tentunya saya melakukan hal ini ketika berada di tempat yang bersinyal bagus. Nah, seterusnya hasil rekaman layar tersebut, saya bagikan ke HP siswa. Ketika belajar materi ruang angkasa, Saya persilahkan siswa untuk membuka HP dan mengamati video jelajah ruang angkasa yang saya lakukan sambil saya menjelaskannya juga.

Inilah inovasi pemanfaatan portal rumah belajar yang bisa saya terapkan di SMA N 1 Mapat Tunggul Selatan dengan kondisi sinyal yang sangat tidak bersahabat. Semoga tulisan ini bisa menjadikan semua guru khususnya yang mengabdi di daerah pelosok yang minim sinyal untuk tidak berhenti berinovasi dan berkarya mengikuti tuntutan era 4.0 yang serba berbasis teknologi ini demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

MERDEKA BELAJARNYA

RUMAH BELAJAR PORTALNYA

MAJU INDONESIA

https://simpatik.belajar.kemdikbud.go.id/

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar