SEKOLAH
DI PELOSOK, SUSAH SINYAL, BAHKAN PERNAH DAN SERING TERJADI SELAMA DUA PEKAN
SINYAL HILANG SAMA SEKALI, BISAKAH BERINOVASI MENGGUNAKAN PORTAL RUMAH BELAJAR??
Portal Rumah
Belajar adalah salah satu flatform belajar online yang digagas oleh Pusat Data
dan Informasi ( PUSDATIN) Kemdikbud RI. Portal rumah belajar ini tentunya
sangat support sekali loo untuk pembelajaran siswa di rumah, baik siswa PAUD,
SD, SMP,dan SMA/SMK.
Rumah belajar memiliki
fitur-fitur utama dan fitur pendukung. Adapun fitur utamanya adalah :
- Sumber
Belajar
- Kelas
Maya
- Bank
Soal
- Laboratorium
Maya
Sedangkan fitur pendukungnya
adalah :
- Peta
Budaya
- Wahana
Jelajah angkasa
- PKB
( Program Keprofesian Berkelanjutan)
- BSE
( Buku Sekolah Elektronik )
- Edugame
Semua fitur
tersebut sangat mendukung kegiatan belajar dari rumah (BDR). Selain itu
fiturnya dapat menperkaya literasi digital siswa yang tentunya sesuai dengan
tuntutan era mileneal 4.0. Sejalan dengan hal itu portal ini juga sangat terasa
manfaatnya terkhusus di masa pandemi Covid-19
yang sampai saat ini masih mewabah hampir diseluruh penjuru dunia, tidak
terkecuali di Indonesia. Jadi sahabat rumah belajar dimanapun kalian berada
bisa akses nih portal rumah belajar untuk menemani serunya belajar tanpa
terbatas ruang dan waktu. Sesuai dengan jargo rumah belajar, “belajar dimana saja, kapan saja, dengan
siapa saja”, dan yang paling penting bisa diakses secara gratis loo.
Tentunya
secara umum, dalam mengakses portal rumah belajar diperlukan akses internet.
Namun ada yang berbeda dengan sekelompok siswa yang tinggal dipedalaman dengan
kondisi sinyal Internet yang sangat minim ini. Siswa siswi di Nagari Silayang,
Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten
Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Dengan segala keterbatasan yang ada,
tidak menyurutkan semangatku sebagai salah seorang guru di SMA N 1 Mapat
Tunggul Selatan ini.
Penulis
Sedang di perjalanan menuju ke SMA N 1 Mapat Tunggul Selatan
Perkenalkan Saya
adalah Lilis Suryani,S.Pd. Guru Geografi di SMA ini. Kondisi geografi sekolah
yang relatif cocok digunakan sebagai laboratorium outdoor mata pelajaran
geografi. Hal ini karena komplitnya morfologi dan fenomena-fenomena geosfer
yang terdapat di kecamatan ini. Sekolah ini terletak di perbukitan, jarak
tempuh dari jalan lintas Sumatera ke kecamatan ini adalah sekitar 35 km. dengan
kondisi medan jalan yang sangat ekstrim. Ada ribuan kisah yang ingin sekali
saya ceritakan kepada guru-guru hebat Indonesia, namun pada artikel kali ini
cukup saya ulas secara singkat saja.
Maret 2019, adalah
pertama kali saya menjejakkan kaki ke sekolah ini, sungguh tak menyangka bahwa
masih ada penduduk dengan jumlah yang relatif ramai setelah saya beserta
teman-teman sesama CPNS penempatan SMA N 1 Mapat Tunggul Selatan menelusuri
semua jenis jalan, mulai dari jalan aspal super mulus, jalan beton, jalan
setengah beton, jalan yang penuh bebatuan ukuran besar, jalan yang dipenuhi
dengan bebatuan bergerak yang kerap kali membuat orang yang melaluinya
terjatuh, jalan berlumpur, jalan dengan tingkat kemiringan sekitar 350 yang super ekstrim.
Disini saya
harus bisa beradaptasi dengan segala kondisi yang ada, seperti aliran listrik
yang masih minim, sinyal telpon, SMS, dan Internet yang sangat susah. Pernah
diawal saya bertugas, terjadi hujan dengan intensitas deras mengguyur nagari
itu, sehingga tower telekomunikasi disambar petir, sinyal hilang selama dua
minggu, listrik juga padam. Hal ini merupakan salah satu yang tak pernah bisa
saya lupakan, betapa tidak saya yang biasanya tinggal di kota Padang selama 6 tahun
yang kondisinya antonim dengan konsisi di nagari tempat saya mengabdi harus
berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Meskipun notabene nya tempat
tinggal saya dengan kecamatan ini berada di kabupaten yang sama yaitu Pasaman,
namun mengharuskan saya untuk merantau dinegeri sendiri, jadi saya harus kos di
di nagari tersebut karena tidak memungkinkan ulang alik karena kondisi jalan
yang super ekstrim.
Penulis
sedang di depan Kantor Majelis Guru SMA N 1 Mapat Tunggul Selatan
Nah, salah
satu hal unik yang saya temukan di SMA ini adalah banyaknya siswa yang
menggunakan Smart phone android yang
dapat dikategorikan canggih, padahal kan sinyal internetnya susah hanya sinyal Edge yang terkadang tidak berfungsi.
Dari pengamatan itulah yang menjadikan saya tertarik untuk memberdayakan Smart phone siswa dalam pembelajaran di
sekolah. Alhamdulillah, setahun bertugas disana saya sudah menerapkan hal
tersebut yaitu dengan membagkan soft file buku sekolah elektronik (BSE) kepada
siswa dan mendapatkan respon posistif para siswa, tidak sedikit diantara mereka
yang berucap “ haaah, akhirnya HP kita bisa digunakan untuk belajar, seperti
siswa dikota-kota gitu” ( kurang lebih seperti itulah celoteh mereka dalam
bahasa minang melayu perbatasan).
Respon itulah
yang menjadikan saya terpacu untuk lebih berinovasi dalam pembelajaran geografi
dengan memanfaatkan smart phone siswa.
Seperti sebuah kebetulan yang disengaja, saya mengikuti PembaTIK yang diselenggarakan
oleh Pusdatin Kemdikbud RI, saya mengikuti semua rangkaian kegiatannya dengan
antusias karena memang ingin dan sangat butuh sekali ilmu yang sedang saya
cari-cari ini. Alhamdulillah saya berhasil membuat media pembelajaran interaktif
(MPI) dengan menggunakan Articulary
storyline, juga membuat video pembelajaran geografi yang tentunya
bermanfaat bagi siswa khususnya dalam masa pembelajaran jarak jauh ini, ini
adalah pengalaman pertama saya untuk melakukan hal seprti ini, merasa sangat
bangga terhadap diri sendiri dan Pusdatin Kemdikbud yang sudah menyenggarakn
kegiatan ini.
Alhamdulillah
saya masuk ke 30 besar peserta pembaTIK level 4 Sumatera Barat. Di level ini
temanya adalah level berbagi, jadi kami ditugaskan untuk berbagi inovasi
pembelajaran yang kami lakukan khususnya kepada guru-guru dan kepada semua
umumnya. Nah, pada awalnya saya ragu bagaimana caranya menggunakan portal rumah
belajar di sekolah yang minim sinyal ini. Saya sempat hilang semangat untuk
melanjutkan tugas ini, namun Alhamdulillah dari kegiatan coaching yang telah dilakukan saya mendapatkan cambuk motivasi dan
semangat dari tutor-tutor dan para sahabat rumah belajar yang luar biasa.
Akhirnya saya
menemukan inovasi penggunaan portal rumah belajar pada mata pelajaran geografi
didaerah yang minim akan sinyal internet, yaitu dengan memanfaatkan fitur
pendukung rumah belajar “wahana jelajah angkasa” yang notabene nya bisa diakses
jika ada sinyal internet, namun saya berinovasi sendiri bagaimana fitur ini
tetap bisa digunakan dalam pembelajaran geografi di sekolah ini yaitu dengan merekam
layar HP dan mulai mengoperasikan wahana jelajah angkasa
yang terdapat di fitur ini. Tentunya saya melakukan hal ini ketika berada di
tempat yang bersinyal bagus. Nah, seterusnya hasil rekaman layar tersebut, saya
bagikan ke HP siswa. Ketika belajar materi ruang angkasa, Saya persilahkan siswa
untuk membuka HP dan mengamati video jelajah ruang angkasa yang saya lakukan
sambil saya menjelaskannya juga.
Inilah inovasi
pemanfaatan portal rumah belajar yang bisa saya terapkan di SMA N 1 Mapat
Tunggul Selatan dengan kondisi sinyal yang sangat tidak bersahabat. Semoga
tulisan ini bisa menjadikan semua guru khususnya yang mengabdi di daerah
pelosok yang minim sinyal untuk tidak berhenti berinovasi dan berkarya
mengikuti tuntutan era 4.0 yang serba berbasis teknologi ini demi kemajuan
pendidikan di Indonesia.
MERDEKA BELAJARNYA
RUMAH BELAJAR PORTALNYA
MAJU INDONESIA
https://simpatik.belajar.kemdikbud.go.id/